Pages

Senin, 24 September 2012

KEBUDAYAAN



CERITA RAKYAT DALAM TRADISI TULIS
( Antara Mitos, Persepsi dan Nilai )

H. L. Agus Fathurrahman

1
Mendifinisikan Cerita Rakyat tampaknya akan menjadi sangat beragam, tergantung pada perspektif yang digunakan untuk memberikan pemahaman kepada yang membutuhkan. Cerita  rakyat bisa didefinisikan sebagai bagian dari folklore suatu masyarakat, bisa dimaknai sebagai karya prosa lisan yang mengisahkan tentang sesuatu atau peristiwa atau sejenisnya. Dalam pelajaran-pelajaran sastra, cerita rakyat lazim digolongkan sebagai bacaan anak-anak. Kenyataan ini diperkuat dengan tampilannya dan bahkan dalam katalog-katalog penerbitan cerita rakyat digolongkan ke dalam kelompok bacaan anak-anak. Salah atau benar pandangan dan kondisi ini harus diikuti dengan alasan yang jelas dan ke arah mana sebenarnya kita berpihak.
Beberapa pernyataan  berikut mungkin akan menjadi pintu masuk untuk menunjukkan keberpihakan kita dalam konteks Cerita Rakyat ini. Mitos yang mengatakan bahwa cerita rakyat merupakan bacaan anak-anak, akan berimplikasi terhadap apresiasi kita terhadap karya itu. Mitos itu akan membatasi segmen pembaca, meringankan penyajian dan sekaligus mempertanyakan eksistensinya sebagai karya sastra. Demikian pula dari aspek fungsi yang dapat diemban menjadi sangat terbatas, hanya sebagai media penanaman nilai bagi anak-anak bahkan cenderung menjadi “dongeng sebelum tidur”. Dalam konteks ini, aspek-aspek filosofis yang dikandung cerita rakyat menjadi terabaikan walaupun mungkin sangat kaya. Ini peran transformasi pada cerita rakyat menjadi sangat terbatas.
Apakah Cerita Rakyat memang bacaan anak ?. Segmentasi pembaca berdasarkan usia tidak tergantung pada genre ceritanya. Bacaan anak yang dilekatkan pada cerita rakyat juga saat ini telah bergeser. Anak-anak akan memilih komik Jepang atau kisah-kisah petualangan seperti Harry Poter dari pada cerita rakyat. Artinya, mitos tentang cerita rakyat sebagai bacaan anak kini sudah terbantahkan. Ringan atau beratnya suatu karya juga tidak bisa dijustifikasi dengan genrenya. Cerita rakyat, novel pop atau kisah-kisah petualangan adalah karya sastra. Tetapi kalau kita hanya memahami karya sastra sebagai karya “sofisticated”, karya berat yang membuat pusing, maka cerita rakyat atau novel pop bukan karya sastra. Lalu dimana alamat kedua jenis tulisan itu atau bahkan bentuk-bentuk lain?. Pasti bukan artikel, bukan news, bukan reportase, bukan bacaan ilmiah, ...... lalu apa ? Memandang cerita rakyat juga harus jujur dan adil, ia lahir dari proses kreatif, menggunakan bahasa sebagai media, ada pesan yang disampaikan dan juga sarat dengan simbol-simbol. Artinya, masihkah kita akan mengatakan cerita rakyat dalam tradisi tulis bukan karya sastra ?
Secara sosial, cerita rakyat merupakan khazanah budaya yang memiliki fungsi dalam masyarakat pendukungnya dan juga mengemban tugas dan peran dalam proses pembangunan peradaban. Jika secara apriori kita berpegang pada mitos cerita rakyat sebagai bacaan anak-anak yang telah ditinggalkan, maka secara kultural masyarakat itu mengalami kerugian besar. Saat ini yang menjadi mitos di kalangan anak-anak adalah Dora Emon, Avatar, Harry Poter, dll yang berarti identifikasi mereka bukan lagi pada milik bangsanya. Mengapa ?, karena kita masih salah mengapresiasi cerita rakyat sehingga tidak berusaha melakukan transformasi dan mereformasinya sesuai dengan perkembangan peradaban.
Diskursus ringan seperti itu tentu saja tidak cukup menjadi modal untuk mendongkrak posisi cerita rakyat menjadi karya sastra tanpa ada usaha kongkrit dari para sastrawan dan pemilik / pendukung cerita rakyat itu. Untuk itu diperlukan upaya membongkar mitos tentang cerita rakyat dan menyajikan paradigma baru yang lebih prospektif. Upaya untuk mengembalikan “keseriusan” cerita rakyat sebagai karya sastra, mengembalikan fungsi transformasi yang diperkecil menjadi penanaman nilai tertentu, dan mengembangkan tema, alur, konteks dan tokoh sesuai dengan perkembangan peradaban. Dengan demikian cerita rakyat akan menjadi karya yang diapresiasi dengan benar sesuai dengan segmen pembacanya.

2

Memberi bobot pada Cerita Rakyat harus berani keluar dari mitos yang berkembang selama ini. Membangun paradigma baru yang menggugurkan generalisasi yang menyempitkan arti dan posisi cerita rakyat dalam kesusastraan. Tentu saja paradigma yang ditawarkan harus berangkat dari asumsi-asumsi yang dapat dikembangkan secara tekstual dan kontekstual. Secara tekstual, cerita rakyat harus menunjukkan karakteristik sastra yang kuat dan secara kontekstual merepresentasi latar, tokoh, filosofi dan nilai yang diemban. Dalam konteks ini, tidak bisa tidak harus dibangun dengan proses kreatif tersendiri dengan mengacu pada cerita rakyat yang berkembang dalam masyarakat pendukungnya. Permasalahannya adalah menciptakan sebuah karya “daur ulang” memiliki rambu-rambu yang mungkin lebih ketat di satu pihak dan dengan misi besar di pihak lain. Rambu-rambu dalam hal ini adalah keberterimaan kreativitas tersebut dalam masyarakat.
Jika kita berangkat dari misi besar untuk mengembalikan cerita rakyat sebagai karya sastra, tentu saja kita mulai dari menempatkan pembaca dengan benar, mengapresiasi pembaca dengan baik, tidak under estimeted . Dengan demikian kita dapat membangun konsep eksplorasi cerita rakyat secara lebih bebas, tentu dalam bingkai latar tradisi dan norma yang dianut masyarakat. Pada sisi lain misi besar tersebut harus berjalan dengan format dasar cerita rakyat yang dikreasikan, baik dalam alur, kontens, penokohan maupun seting ruangnya. Pada dasarnya cerita rakyat sebagai karya masa, telah memiliki kompleksitas yang sangat komprehensif hanya disajikan secara garis besar dan dengan format simbolik yang sangat sederhana. Disinilah ruang kreativitas penulis untuk mengembangkan gagasan yang lebih kontekstual dengan perkembangan peradaban masyarakat pendukungnya.
Dalam konteks masyarakat tradisi, cerita rakyat yang dieksplorasi harus tetap menjadi milik masyarakat tradisional dan bisa membangun semangat kebanggaan baru terhadap khasanah budayanya. Masyarakat menemukan dirinya dalam karya itu yang mewakili tradisionalitas sekaligus modernitasnya. Dengan kata lain, cerita rakyat yang dikesplorasi harus mampu mengemban fungsi transformatif  dalam mengembangkan peradaban masyarakat pendukungnya. Beberapa fungsi transformatif yang dapat dilakukan melalui eksplorasi cerita rakyat antara lain : (1) Memberikan cara pandang baru terhadap persoalan-persoalan “hitam – putih” dalam ceritera rakyat menjadi lebih kopleks (komplicated). (2) Menawarkan model-model alternatif permasalahan nilai dan norma tradisional dalam menghadapi peradaban. (3) Membebaskan masyarakat dari berbagai mitos tentang cerita rakyat yang berkembang, (4)  Menjadi media transformasi nilai dan transformasi budaya dalam membangun peradaban.
Fungsi-fungsi transformatif cerita rakyat seperti itu akan mengembalikan peran cerita rakyat sebagai karya sastra, dari fungsi penyampaian nilai moral menjadi lebih luas dan kompleks. Mengembalikan nilai filosofis yang menjadi salah satu karakter karya sastra yang dapat dianalisis dengan pisau analisis ilmu sastra atau kritik sastra dan alat-alat bantu lainnya. Membangun cerita rakyat menjadi karya sastra tidak hanya dengan mengantarkan nilai-nilai filosofis yang absurd, tetapi nilai filosofis yang berangkat dari simbol-simbol tradisi yang diyakini oleh masyarakat, dan menyajikan dalam konteks yang lebih komprehensif.
Sebagai bahan kajian, kita coba mengambil contoh fabel “tetontel-tontel” atau kisah persahabatan antara si kera dengan si kodok yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Sasak. Fabel ini menceriterakan tentang dua tokoh yaitu si kera yang bodoh dan malas, dan si kodok yang juga bodoh tetapi bekerja keras. Dalam kisah ini tidak ada tokoh alternatif sebagai penyeimbang dan sekaligus menggambarkan kedua tokoh hidup dalam satu sistem masyarakat yang terus menerus saling berinteraksi. Tema utamanya sangat sedehana yaitu usaha menanam yang dilakukan tanpa pengetahuan yang benar dan melahirkan kekonyolan yang membuat kisah ini menjadi komidi dengan tidak memperhatikan latar dan konteks secara lebih luas dalam kehidupan sosial. Dari  konteks ruang dan waktu, walau bersifat fabel dapat saja dikembangkan dalam suatu sistem dan proses sosial yang kompleks.  Dalam kasus ini mungkin kita dapat merujuk pada “Musyawarah Burung” yang ditulis oleh Fariduddin Attar.
Dengan pola eksplorasi fabel “tetontel-tontel” seperti yang dicontohkan di atas, walau dengan judul yang sama akan melahirkan kesan yang berbeda ketika keluar dari mitos cerita rakyat dan memasuki ruang kreativitas penulis. Karya itu akan menjadi karya sastra sufi atau karya sastra psikologi yang kuat. Mungkin masih banyak lagi contoh-contoh lain yang dapat dirujuk pada karya-karya sastra klasik yang universal dengan tetap memperhatikan aspek-aspek kontekstualnya. Katakanlah kisah “Lale Seruni” bisa dikaji pengembangannya dengan merujuk pada Romeo dan Yuliet, “Tedoyan Nede” atau “Balang Kesimbar” bisa dikembangkan dengan pendekatan yang digunakan dalam karya-karya Iwan Simatupang, dll.

3

Eksplorasi cerita rakyat pada dasarnya adalah untuk memperkaya cerita rakyat yang bersangkutan dan memperkuat eksistensinya sebagai karya sastra dalam satu kesatuan pragmatik, sintetik dan semantik. Atau dengan kata lain memperkuat cerita rakyat sebagai teks. Sebagai sebuah teks, cerita rakyat yang dieksplorasi tersebut kemudian harus memperhatikan konteksnya, sehingga harus pula dimaknai sebagai suatu pesan dalam sebuah komunikasi. Dengan demikian maka eksplorasi cerita rakyat sebagai karya sastra harus memperhatikan aspek-aspek pokok sebagai berikut :

1.      Sebagai  teks, harus mampu menunjukkan fungsi-fungsi pragmatik, sintetik dan semantik dalam membangun komunikasi dengan pembacanya. Secara pragmatik, karya ini harus mampu menggunakan bahasa sesuai dengan konteks sosial tertentu sehingga pembacanya dapat menangkap gagasannya secara utuh. Secara sintetik karya eksplorasi ini harus mampu menunjukkan kebertautan antar unsur dan sistem yang berproses dalam rancang bangun karya yang bersangkutan dan secara Semantik karya eksplorasi ini harus merujuk pada tema global aslinya.
2.      Sebagai khazanah budaya lokal cerita rakyat harus mengemban tugas transformasi karena cerite rakyat dalam konteks folklore berfungsi sebagai media transformasi nilai dan sekaligus budaya secara umum. Dalam hal ini kemampuan semantik seorang pengeksplorasi cerita rakyat harus memadai sehingga penggunaan simbol lokal tidak menjadikan karya itu karya lokal.
3.      Sebagai karya sastra teks cerita rakyat yang dieksplorasi menggunakan simbol-simbol  kontekstual khazanah budaya setempat. Dalam hal ini dapat merujuk pada istilah, penokohan, setting dan mungkin pula pola komunikasi simbolik yang umumnya digunakan dalam masyarakat tradisional.
4.      Pengembangan tema dan gagasan hendaknya tetap memperhatikan nilai yang diyakini, cara pandang serta logika masyarakat tradisional walaupun mungkin saja diperkaya dengan pola transformasi sesuai dengan konteksnya. Demikian pula dalam upaya pengembangan karakter tokoh yang diharapkan dapat memperkaya konflik sesuai dengan perkembangan peradaban.

Tentu saja masih banyak aspek lain dan pendekatan yang digunakan untuk mengaktualisasikan cerita rakyat dalam kekinian sehingga dapat mengemban fungsi dan peran sebagai sarana transformasi nilai dan membangun peradaban yang tetap mempertahankan aspek-aspek tradisionalitas. Akan lebih sempurna eksplorasi ceritera rakyat sebagai karya sastra jika secara utuh memahami kehadiran seluruh simbol di dalamnya sebagai sesuatu yang bermakna dan sarat nilai. Dalam hal ini banyak hal yang harus dipelajari dan dihayati oleh seorang Penulis yang berusaha mengeksplorasi cerita rakyat sebagai karya sastra yang “baru” – orisinal.

Pengembangan ceritera rakyat menjadi karya sastra baru merupakan suatu bentuk kreativitas yang juga dapat diapresiasi, dengan wawasan sastra maupun wawasan filologis. Disinilah kekayaan cerita rakyat yang dielaborasi, disamping kekayaan secara fungsional sebagai media transformasi nilai dan transformasi budaya. Hal ini berarti cerita rakyat yang dielaborasi juga memiliki kekayaan yang bersifat ilmiah.

Pola Analisis
Menganalisa karya sestra jenis ini memiliki keunikan karena memiliki multi dimensi yang komplek dan menggunakan alat analisis yang juga beragam. Dongeng, Cerita rakyat, Babad, dengan berbagai karakternya semula bertumpu pada analisis filologis, yang diperkuat dengan pendekatan semantik dan semiotika. Pendekatan Filologis 

0 komentar:

Poskan Komentar